Lady
Gaga merupakan salah satu penyanyi Hollywood yang mulai terkenal sejak merilis
album yang berjudul The Fame pada tahun 2008. Sejak kemunculannya di dunia
tarik suara, Lady Gaga telah menyedot perhatian masyarakat pecinta music dengan
lirik lagu yang menggelitik, music yang asik didengar ditambah aksi panggung
yang eksentrik, berbeda dengan yang lain. Tidak heran jika terdapat lima puluh
juta lebih fans yang menyukai Fans Page Lady
Gaga dalam status jejaring social Facebook
serta tak kurang dari dua puluh juta pengikut dalam akun twitternya,
@ladygaga. Namun bukan hanya itu, dibalik lirik lagu yang enak didengar,
eksentrik, dan terkesan berani terdapat makna-makna ekxplisit mauoun implicit
mengenai pembelaan atau dukungan terhadap hak kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan
Transgender (LGBT). Seperti yang kita ketahui, salah satu lagunya yang berjudul "Born This
Way" didedikasikan untuk kaum LGBT. Tidak hanya itu, Lady Gaga bahkan
menyampaikan pidato yang tak kalah spektakuler mengenai penolakan terhadap
"don't ask don't tell policy"
yang berlaku pada angkatan bersenjata militer Amerika Serikat (AS) serta Undang-Undang
Penghapusan Hak Pernikahan Sesama Jenis, Proposition
8 di Negara bagian California. Sebagai public
figure, Lady Gaga melalui berbagai karya dan kepopulerannya seolah secara
langsung atau tidak langsung ikut mengampanyekan kebebasan hak kaum LGBT yang
sampai sekarang masih memunculkan perdebatan dimana-mana.
Dalam
salah satu hits lagunya yang berjudul “Born This Way” terdapat beberapa lirik
ekslpisit dan implisit yang mendukung terhadap kebebasan hak kaum LGBT, seperti:
“There’s nothing wrong with loving who you are”…“No matter
gay, straight, or bi, lesbian, transgenderd life. I’m on the right track, baby
I was born this way”…”A different lover is not a sin”…
(Lady
Gaga 2011)
Penggalan-penggalan lirik tersebut seolah memberikan pesan
kepada para penikmat lagu khususnya kaum LGBT untuk percaya kepada dirinya
sendiri atas apa yang telah mereka pilih, termasuk orientasi seksual tanpa
memandang perbedaan sebagai hambatan untuk menjalani kehidupan. Tidak hanya
berkahir pada lirik lagu saja, pesan-pesan lain seolah kian digencarkan melalui
video clip lagu tersebut. Pada awal
video terdapat simbol segitiga merah muda terbalik (LadyGagaVevo 2011) dimana
lambang tersebut identik dengan symbol kaum homoseksual. Simbol segitiga merah
muda terbalik ini merupakan symbol yang diberikan kepada tawanan perang di concentration camp Nazi sesuai dengan
kesalahan yang diperbuatnya. Pada masa itu berbagai kegiatan yang berbau
homoseksual merupakan kegiatan yang dilarang dan berhak mendapatkan hukuman
bahkan hukuman mati (Lambda GLBT Community Services 2004). Selain itu pada
video clip Alejandro terdapat beberapa adegan dimana laki-laki menari
menggunakan sepatu hak tinggi dan Lady Gaga seolah-olah menyetubuhinya dari
belakang. Dengan tersiratnya beberapa lirik lagu serta adegan pada video clip Lady Gaga menunjukkan bahwa
dirinya sangat terbuka dan focus mengenai persoalan tersebut. Lebih dari itu
Lady Gaga bermaksud mencoba untuk menyebarluaskan ide-ide atau makna yang
terkandung di dalamnya sehingga lebih mudah diterima oleh masyatakat luas.
Tidak hanya melalui lagu atau video
clip saja, Lady Gaga gencar menyuaakan hak kaum LGBT melalui berbagai pidato
dan kampanye. Pada tahun 2010 lalu, Lady Gaga secara resmi mendukung
penghapusan kebijakan “don’t ask don’t
tell policy” melalui sebuah pidato yang disaksikan oleh ribuan warga di
Portland, Maine AS (WMTW 2010). Dalam pidatonya ia berkata bahwa kebijakan ini
merupakan kebijakan yang bertolak belakang dengan konstitusi Negara dimana
semua warga Negara AS memiliki hak yang sama untuk membela Negara dan
menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan. Namun disisi lain kebijakan ini
seolah tidak sesuai dengan hal tersebut, kaum homoseksual yang mendaftarkan
diri sebagai pasukan militer AS tidak dapat mengekspresikan kebebasan dirinya
sebagai homoseksual karena dianggapa akan mengurangi performa dan mencemarkan
nama baik kesatuan. Mereka dituntut untuk menjunjung tinggi kesetaraan dan
keadilan tapi tidak untuk kum homoseksual, tidak adil. Dalam pidatonya ia
menegaskan dan menyerukan kepada Senator yang berasal dari Maine harus
mendukung pencabutan segera kebijakan ini. Hal ini menunjukkan bahwa Lady Gaga,
sangat serius dan focus pada isu penegakan hak kaum LGBT. Keseriusannya dalam
isu ini membawanya pada pertemuan secara langsung dengan Presiden AS, Barack
Obama untuk memperbincangkan isu kesetaraan gender serta perjuangan hak kaum
LGBT. Pada acara Human Right Campaign (HRC) National Dinner, Barack Obama
menyebut Lady Gaga sebagai pemimpin para kaum LGBT (MetroWeekly 2011). Selain
itu Lady Gaga terlibat aktif dalam kampanya “It Gets Better” dalam sitis jejaring social Youtube.
Dari pemaparan diatas, Cultural Studies dalam Komunikasi
Internasional dapat dijadikan sebagai bahan tinjaun untuk analisis fenomena.
Dimana pandangan ini berpendapat bahwa komunikasi merupakan sebuah fenomena
budaya yang berfokus pada proses penyampaian informasi melalui media yang dapat
diinterpretasikan secaraa berbeda-beda berdasarkan masing-masing pandangan
terhadap media tersebut. Dalam konteks ini memungkinkan adanya pembahasan
melalui isu-su politik yang termarjinalkan seperti politik identitas dan
perbedaan ras, etnis, gender, dan seksualitas. Terlebih cultural studies
memaparkan bagaimana sebuah komunikasi antar budaya dapat meluas dan popular
hingga masuk kedalam kehidupan sehari-hari. (Madikiza and Bornman 2007). Lady
Gaga sebagai representasi dari budaya populer mencoba untuk menyuarakan hak
kaum LGBT melalui lagu dan video clip yang dibuatnya. Ketika isu yang
bertemakan LGBT masih menjadi perdebatan dimana-mana, Lady Gaga mencoba untuk
memasukan berbagai pesan secara implicit kedalam karya-karyanya. Penyebaran ide
maelalui music dan video clip dirasa ampuh karena music hampir tidak dapat
dilepaskan dalam kehidupan manusia, terlebih music yang dibawakan oleh bintang
Hollywood seperti Lady Gaga dengan irama super
funky. Popularitas akan banyaknya penggemar setia serta music yang enak
didengar merupakan sebuah prduk budaya populer yang dimiliki oleh Lady Gaga
menjadi senjata ampuh dalam penyebaran ide atas penyetaraan hak kaum LGBT.
Disisi lain, berbagai konten lirik
lagu, video clip, serta keikutsertaannya dalam berbagai pidato atau kampanye
dalam menyerukan kebebasan hak kaum LGBT dapat dikategorikan sebagai tindakan
subversive (McRobbie 1994). Dimana melalui media-media yang ada, Lady Gaga
dengan kepopulerannya berusaha untuk mengangkat isu-isu yang termarjinalkan
serta mendobrak konstruksi hegemoni mengenai kebebasan hak kaum LGBT melalui
pola-pola partisipasi sehingga menimbulkan kekuatan oposisi dari masyarakat
untuk menyuarakannya. Berbagai perlawanan yang dilakukan oleh Lady Gaga seolah
dikomodifikasi menjadi sesuatu yang lebih menarik dan dapat diterima lebih
mudah oleh masyarakat luas sehingga ia dapat mencapai apa yang diinginkannya,
mengampanyekan kebebasan hak kaum LGBT. Dari berbagai pernyataan diatas dapat
disimpulkan bahwa Lady Gaga merupakan representasi (icon) dari penyeru
kebebasan hak kaum LGBT.
DAFTAR
PUSTAKA
Lady Gaga (2011) ‘Born This Way’, Lyrics, available http://www.ladygaga.com/lyrics/default.aspx?tid=23592566
(diakses pada: 10 April 2012).
LadyGagaVevo (2011) ’Lady Gaga-Born this Way’, Born This Way
Official Video Clip, available: http://www.youtube.com/watch?v=wV1FrqwZyKw&ob=av3e
(diakses pada: 10 April 2012).
Lambda GLBT Community Services (2004) ‘Symbols of the Gay,
Lesbian, Bisexual, and Transgender Movement’, Overview, available: http://www.lambda.org/symbols.htm
(diakses pada: 10 April 2012).
Madikiza,L., Bornman, E. ‘International Communication:
Shifting Paradigms, Theories and Fact of interest’, Communicatio Volume 33(2)
2007 pp,11-44
McRobbie, A. (1994) Postmodernism and Popular Culture,
London/ New York: Routledge.
MetroWeekly (2011 )’Barack Obama speaks at 2011 HRC National
Dinner’, available: http://www.youtube.com/watch?v=5lyzBXCf2Hg
WMTWTV (2010) ’UNCUT: Lady Gaga’s Uncut Speech’, available: http://www.youtube.com/watch?v=MoqOvFJ5-0c
(diakses pada: 10 April 2012).