Jumat, 01 Juni 2012

Lady Gaga, the LGBT Icon



Lady Gaga merupakan salah satu penyanyi Hollywood yang mulai terkenal sejak merilis album yang berjudul The Fame pada tahun 2008. Sejak kemunculannya di dunia tarik suara, Lady Gaga telah menyedot perhatian masyarakat pecinta music dengan lirik lagu yang menggelitik, music yang asik didengar ditambah aksi panggung yang eksentrik, berbeda dengan yang lain. Tidak heran jika terdapat lima puluh juta lebih fans yang menyukai Fans Page Lady Gaga dalam status jejaring social Facebook serta tak kurang dari dua puluh juta pengikut dalam akun twitternya, @ladygaga. Namun bukan hanya itu, dibalik lirik lagu yang enak didengar, eksentrik, dan terkesan berani terdapat makna-makna ekxplisit mauoun implicit mengenai pembelaan atau dukungan terhadap hak kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Seperti yang kita ketahui, salah satu lagunya yang berjudul "Born This Way" didedikasikan untuk kaum LGBT. Tidak hanya itu, Lady Gaga bahkan menyampaikan pidato yang tak kalah spektakuler mengenai penolakan terhadap "don't ask don't tell policy" yang berlaku pada angkatan bersenjata militer Amerika Serikat (AS) serta Undang-Undang Penghapusan Hak Pernikahan Sesama Jenis, Proposition 8 di Negara bagian California. Sebagai public figure, Lady Gaga melalui berbagai karya dan kepopulerannya seolah secara langsung atau tidak langsung ikut mengampanyekan kebebasan hak kaum LGBT yang sampai sekarang masih memunculkan perdebatan dimana-mana.
Dalam salah satu hits lagunya yang berjudul “Born This Way” terdapat beberapa lirik ekslpisit dan implisit yang mendukung terhadap kebebasan hak kaum LGBT, seperti:
“There’s nothing wrong with loving who you are”…“No matter gay, straight, or bi, lesbian, transgenderd life. I’m on the right track, baby I was born this way”…”A different lover is not a sin”…
(Lady Gaga 2011)
                Penggalan-penggalan lirik tersebut seolah memberikan pesan kepada para penikmat lagu khususnya kaum LGBT untuk percaya kepada dirinya sendiri atas apa yang telah mereka pilih, termasuk orientasi seksual tanpa memandang perbedaan sebagai hambatan untuk menjalani kehidupan. Tidak hanya berkahir pada lirik lagu saja, pesan-pesan lain seolah kian digencarkan melalui video clip lagu tersebut. Pada awal video terdapat simbol segitiga merah muda terbalik (LadyGagaVevo 2011) dimana lambang tersebut identik dengan symbol kaum homoseksual. Simbol segitiga merah muda terbalik ini merupakan symbol yang diberikan kepada tawanan perang di concentration camp Nazi sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya. Pada masa itu berbagai kegiatan yang berbau homoseksual merupakan kegiatan yang dilarang dan berhak mendapatkan hukuman bahkan hukuman mati (Lambda GLBT Community Services 2004). Selain itu pada video clip Alejandro terdapat beberapa adegan dimana laki-laki menari menggunakan sepatu hak tinggi dan Lady Gaga seolah-olah menyetubuhinya dari belakang. Dengan tersiratnya beberapa lirik lagu serta adegan pada video clip Lady Gaga menunjukkan bahwa dirinya sangat terbuka dan focus mengenai persoalan tersebut. Lebih dari itu Lady Gaga bermaksud mencoba untuk menyebarluaskan ide-ide atau makna yang terkandung di dalamnya sehingga lebih mudah diterima oleh masyatakat luas.
            Tidak hanya melalui lagu atau video clip saja, Lady Gaga gencar menyuaakan hak kaum LGBT melalui berbagai pidato dan kampanye. Pada tahun 2010 lalu, Lady Gaga secara resmi mendukung penghapusan kebijakan “don’t ask don’t tell policy” melalui sebuah pidato yang disaksikan oleh ribuan warga di Portland, Maine AS (WMTW 2010). Dalam pidatonya ia berkata bahwa kebijakan ini merupakan kebijakan yang bertolak belakang dengan konstitusi Negara dimana semua warga Negara AS memiliki hak yang sama untuk membela Negara dan menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan. Namun disisi lain kebijakan ini seolah tidak sesuai dengan hal tersebut, kaum homoseksual yang mendaftarkan diri sebagai pasukan militer AS tidak dapat mengekspresikan kebebasan dirinya sebagai homoseksual karena dianggapa akan mengurangi performa dan mencemarkan nama baik kesatuan. Mereka dituntut untuk menjunjung tinggi kesetaraan dan keadilan tapi tidak untuk kum homoseksual, tidak adil. Dalam pidatonya ia menegaskan dan menyerukan kepada Senator yang berasal dari Maine harus mendukung pencabutan segera kebijakan ini. Hal ini menunjukkan bahwa Lady Gaga, sangat serius dan focus pada isu penegakan hak kaum LGBT. Keseriusannya dalam isu ini membawanya pada pertemuan secara langsung dengan Presiden AS, Barack Obama untuk memperbincangkan isu kesetaraan gender serta perjuangan hak kaum LGBT. Pada acara Human Right Campaign (HRC) National Dinner, Barack Obama menyebut Lady Gaga sebagai pemimpin para kaum LGBT (MetroWeekly 2011). Selain itu Lady Gaga terlibat aktif dalam kampanya “It Gets Better” dalam sitis jejaring social Youtube.
            Dari pemaparan diatas, Cultural Studies dalam Komunikasi Internasional dapat dijadikan sebagai bahan tinjaun untuk analisis fenomena. Dimana pandangan ini berpendapat bahwa komunikasi merupakan sebuah fenomena budaya yang berfokus pada proses penyampaian informasi melalui media yang dapat diinterpretasikan secaraa berbeda-beda berdasarkan masing-masing pandangan terhadap media tersebut. Dalam konteks ini memungkinkan adanya pembahasan melalui isu-su politik yang termarjinalkan seperti politik identitas dan perbedaan ras, etnis, gender, dan seksualitas. Terlebih cultural studies memaparkan bagaimana sebuah komunikasi antar budaya dapat meluas dan popular hingga masuk kedalam kehidupan sehari-hari. (Madikiza and Bornman 2007). Lady Gaga sebagai representasi dari budaya populer mencoba untuk menyuarakan hak kaum LGBT melalui lagu dan video clip yang dibuatnya. Ketika isu yang bertemakan LGBT masih menjadi perdebatan dimana-mana, Lady Gaga mencoba untuk memasukan berbagai pesan secara implicit kedalam karya-karyanya. Penyebaran ide maelalui music dan video clip dirasa ampuh karena music hampir tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia, terlebih music yang dibawakan oleh bintang Hollywood seperti Lady Gaga dengan irama super funky. Popularitas akan banyaknya penggemar setia serta music yang enak didengar merupakan sebuah prduk budaya populer yang dimiliki oleh Lady Gaga menjadi senjata ampuh dalam penyebaran ide atas penyetaraan hak kaum LGBT.
            Disisi lain, berbagai konten lirik lagu, video clip, serta keikutsertaannya dalam berbagai pidato atau kampanye dalam menyerukan kebebasan hak kaum LGBT dapat dikategorikan sebagai tindakan subversive (McRobbie 1994). Dimana melalui media-media yang ada, Lady Gaga dengan kepopulerannya berusaha untuk mengangkat isu-isu yang termarjinalkan serta mendobrak konstruksi hegemoni mengenai kebebasan hak kaum LGBT melalui pola-pola partisipasi sehingga menimbulkan kekuatan oposisi dari masyarakat untuk menyuarakannya. Berbagai perlawanan yang dilakukan oleh Lady Gaga seolah dikomodifikasi menjadi sesuatu yang lebih menarik dan dapat diterima lebih mudah oleh masyarakat luas sehingga ia dapat mencapai apa yang diinginkannya, mengampanyekan kebebasan hak kaum LGBT. Dari berbagai pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Lady Gaga merupakan representasi (icon) dari penyeru kebebasan hak kaum LGBT.
                       

DAFTAR PUSTAKA
Lady Gaga (2011) ‘Born This Way’, Lyrics, available http://www.ladygaga.com/lyrics/default.aspx?tid=23592566 (diakses pada: 10 April 2012).
LadyGagaVevo (2011) ’Lady Gaga-Born this Way’, Born This Way Official Video Clip, available: http://www.youtube.com/watch?v=wV1FrqwZyKw&ob=av3e (diakses pada: 10 April 2012).
Lambda GLBT Community Services (2004) ‘Symbols of the Gay, Lesbian, Bisexual, and Transgender Movement’, Overview, available: http://www.lambda.org/symbols.htm (diakses pada: 10 April 2012).
Madikiza,L., Bornman, E. ‘International Communication: Shifting Paradigms, Theories and Fact of interest’, Communicatio Volume 33(2) 2007 pp,11-44
McRobbie, A. (1994) Postmodernism and Popular Culture, London/ New York: Routledge.
MetroWeekly (2011 )’Barack Obama speaks at 2011 HRC National Dinner’, available: http://www.youtube.com/watch?v=5lyzBXCf2Hg
WMTWTV (2010) ’UNCUT: Lady Gaga’s Uncut Speech’, available: http://www.youtube.com/watch?v=MoqOvFJ5-0c (diakses pada: 10 April 2012).



Jatinangor, Saya butuh Zebra cross!



Kalau kita kembali ke masa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), masih ingat dengan pertanyaan ini? “Dimanakah tempat menyebrang jalan?” Masih ingat jawabannya? Dengan pasti saya akan jawab pertanyaan pertama dengan “zebra cross” Normatif? Itu kan jawaban saya pas SD,hehhehhee, kalau sekarang? Tapi, apakah zebra cross tersedia untuk penyebrang jalan? Coba kita hitung berapa panjang jalan yang ada di daerah tempat kita tinggal, ada berapa zebra cross yang tersedia? Kalau ga ada zebra cross, bagaimana kita menyebrang?
Jujur dari kecil sepertinya saya jarang menyebrang di zebra cross, bahkan sangat jarang saya menemukannya, paling-paling bertemu zebra cross kalau kebetulan menyebrang di lampu merah. Tapi apakah kita harus berjalan menuju perempatan lampu merah yang mungkin entah dimana keberadaannya hanya untuk menyebrang? Untung kalo ketemu! Kalau gak? Gak jadi nyebrang? Padahal lumpia basah sebrang jalan melambai-lambai. Non sense!Males gila!Akhirnya kita akan menyebrang di titik terdekat ke tempat yang kita tuju. Ya begitu yang saya lakukan. Bagitu pula yang saya selalu alami setelah hampir empat tahun hidup di KAWASAN PENDIDIKAN JATINANGOR.  Jalan Raya Jatinangor yang menjadi jalur lalu-lintas utama di kawasan ini banyak dilalui berbagaimacam kendaraan bermotor, mulai dari sepeda motor, angkot, mobil pribadi, bus antar kota-antar provinsi, hingga beraneka ragam bentuk truk segede-gede alaihum gambreng beserta polusi yang dihasilkannya. Tak heran karena jalan ini merupakan jalur penghubung utama kota Bandung-Sumedang serta merupakan jalur antar Provinsi. Jadilah sering terjadi kemacetan, ditambah kalau sedang hari pasar, Pasar Tanjung Sari bikin macet cyin! Ternyata bukan hanya kendaraan-kendaraan itu saja yang menggunakan jalur ini, mahasiswa yang tinggal disekitar kawasan ini pasti perlu menyebrangi jalan ini untuk mencapai kampus tercintanya atau mungkin untuk sekedar mengisi perut di RM Doa Mande. Kebetulan banyak mahasiswa tinggal diseberang kampus.
Emang ada zebra cross? Kebetulan setahu saya dari mulai kelokan Indomaret di ujung sana sampai ke jalan unjung Cileunyi tidak dtemukan satupun zebra cross, koreksi saya kalau ada ya. Terus gimana mahasiswa bisa nyebrang? Yang saya lakukan, nyebrang ya nyebrang aja, lambaikan tangan untuk menyetop mobil, mobil berhenti atau melambat barulah menyebrang. Tapi tak jarang hal ini tidak berlaku pada truk2 yg saya sebutkan tadi serta para pengendara motor yang tidak sabaran seperti dikejar saithon. Walhasil terkadang saya sering terjebak di tengah-tengah jalan sementara truk segede alaihum gambreng berseliweran dari arah berlawanan, SEREM! Masa mau makan aja harus bertaruh nya wa sih? Ogah! Setelah saya amati selama empat tahun, ceillleehhhhh, spot paling ramai oleh penyebrang jalan adalah di pertigaan jalan depan Kantor Kecamatan Jatinangor. Sekitar jam 7-8 pagi adalah peak season dimana mahasiswa banyak menyebrang, kuliah pagi cyin? Akhirnya banyak mahasiswa yang melakukan hal yg tidak jauh berbeda dengan saya. Namun karena dipertigaan, banyak mobil yg terlanjur belok dan harus berhenti walhasil berujung pada kemacetan dan kesemrawutan. Polusi suara dari klakson mobil jadi backsound adegan ini. Pokoknya gak asyik deh! Ketidakpastian keberadaan bapak Polisi yang berkantor persisis di depan setting shooting adegan ini membuat adegan di pagi hari ini semakin ironis. Si Bapak kadang ada kadang enggak, kamana wae atuh euy?
Dengan gambaran singkat kayak tadi, nyaman gak sih?aman gak sih? Saya sih jujur sangat tidak nyaman, saya maunya nyaman dan aman! Gimana dong? Ya sebenarnya gampang solusinya, letakkan saja zebra cross disana. Lebih bagus kalau ada traffic light khusus buat penyebrang jalan, biar lebih aman dan nyaman! Tapi jaminan nih kalau udah ada zebra cross kendaraan mau mematuhi? Gak ada jaminan! Tapi setidaknya kita mahasiswa,katanya berpendidikan, mencoba melayakan diri sendiri sebagai pejalan kaki untuk menyebrang di tempat yang seharusnya, zebra cross. Jadi kalau misalkan terjadi apa-apa, ih amit-amit, kita sudah melakukan hal yang benar dan tidak akan pernah dipersalahkan. Tapi sampai kapanpun keamanan dan kenyamanan bersama gak akan terwujud kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Jadi nanti nih kalo udah ada zebra cross, kita janji dulu bakalan CUMA mau nyebrang di zebra cross.
Masih ada lagi nih, gimana ya biar di spot krusial bisa ada zebra cross? Ini yang saya masih bingung. Seharusnya sih pemerintah yang berada disekitar situ yang bertanggung jawab! Hehhehehe *colek Bapak Camat Jatinangor. Tapi kalau kata hukum ekonomi ada penawaran baru ada permintaan. Siapa yang minta? Ya kita sebagai warga penghuni Kawasan Pendidikan Jatinangor yang merasa butuh akan keberadaan zebra cross demi kenyamanan dan keamanan kita semua. Nanti permintaan ini kita ajukan ke pemerintah setempat, semoga dikabulkan. Entah bagaimana mekanismenya, harus kita diskusikan lagi. Yang jelas dan pasti saya selaku warga penghuni Kawasan Pendidikan Jatinangor merasa butuh akan keberadaan zebra cross demi kenyamanan dan keamanan penyebrang jalan! Bagaimana teman-teman, butuh ga?

PS: Sebenarnya ini unek-unek saya yang sering hampir terserempet truk segede alaihum gambreng tadi, tapi semoga hal ini tidak terjadi sama teman-teman. Saya berharap ide ini dapat direalisasikan. Ditunggu kritik dan sarannya bisa diskusi via twitter ke @jealouqity. Cheerio!

Rabu, 02 November 2011

belajar banyak

Kemarin menjadi hari yang tidak akan saya lupakan. Berfikir sebelum bertindak, menjadi pilihan tepat dalam menghadapi berbagai situasi. tak perlu bertindak bodoh untuk  menanggapi suatu hal yang mungkin bodoh, karena akan membuat kita ikut-ikutan bodoh. Semuanya ditanggapi dengan lapang dada, legowo, yakin semua orang akan bisa menghadapinya. Terbukti. Bukan hanya itu, hari ini saya belajar dari banyak orang hebat. belajar bagaimana memanfaatkana apa yang kita miiki untuk menjadi kekuatan hakiki. Yang pasti pintar melihat situasi dan kondisi.

Kemarin, saya meminta surat rekomendasi untuk mengikuti salah satu program beasiswa kepada salah satu pengajar saya. Setelah mencetak curriculumvitae (CV) yang diminta, saya duduk menunggu giliran setelah adik angkatan saya mendapat giliran.  Dari perbincangan beliau bersama adik saya ini, terlihat sifa-sifat beliau yang ramah, bijak, pintar sudah pasti, agamis, dan beliau selalu berfikir sebelum bertindak. Sekitar satu jam menunggunya, lama, but it’s worthed! Tibalah giliran saya.
Yang dilihat pertama kali adalah CV saya. Beliau bertanya mengenai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan sedikit bertanya-tanya mengenai itu. Dilihat lagi CV saya. Bertanya berbagai macam hal, berbagai macam pencapaian yang telah diraih. Dalam prosesnya, beliau selalu mencoba menggali apa yang saya miliki, sehingga saya akan terlihat hebat dalam surat rekomendasi tersebut. Dalam keadaan apapun, saya akan terlihat hebat dibuatnya. Tak pernah satu kata pun terucap untuk menjatuhkan apa-apa yang dimiliki saya. Jika saya berhenti pada satu titik, beliau akan mencoba untuk membuka jalan agar saya menemukan titik-titik terkuat yang ada diri saya.  Sehingga sekali lagi saya terihat hebat dalam surat rekomendasi. Sampai dalam hal detail, pemilihan kata, selalu ia pikirkan. Yang perlu diingat, apa yang ia katakana adalah apa yang dia percayai dan berelasi dengan kenyataan, jujur. He makes the whole best look package of me in every aspect! I do really appreciate it!
Tak kalah mengharukan, beliau sangat optimis akan keberhasilan saya lolos eleksi program beasiswa ini. Tanpa ragu saya AMIIN-kan ucapan beliau sebagai doa orang tua terhadap anaknya. Menyampaikan berbagai apresiasi atas pencapain saya. Bukan hanya itu, beliau berpesan untuk tetap selalu patuh terhadap kepada orang, berbakti pada nusa, bangsa dan agama. “Mun tos jadi jelema sing inget ka lemah cai, pidua ibu rama jadi utama !” sangat menyentuh. Hal paling menyentuh hati saya adalah ketika pada akhir sesi perbincangan beliau mengajak dan memimpin saya untuk bersama-sama berdoa demi kelancaran pencapaian yang saya inginkan, program beasiswa ini. Air mata tak sanggup saya tahan melihat penghargaan dan dukungan penuh dari beliau terhadap diri saya.
Dari beliau saya belajar banyak, saya belajar bagaimana kita menghargai setiap pekerjaan yang telah kita dan orang lain sehingga dari sini kita akan bisa menemukan kekuatan tersembunyi yang patut dibanggakan. Di mata beliau, sekecil apapun apa yang telah kita lakukan merupakan sebuah pencapaian hebat yang perlu diapresiasi dan dijadikan kekuatan diri, tak perlu berkecil hati. Untuk itu saya pikir apresiasi sangatlah penting. Bukan hanya itu, Saya belajar bahwa hidup tidak sekedar mengejar duniawi tetapi harus seimbang dengan akhirat. Saya belajar apapun keadaannya kita harus berbuat jujur, karena kejujuran akan membuka jalan unuk kita mencapai apa yang kita inginkan. Dari usaha dan apresiasi beliau, muncul sebuah tanggungjawab besar yang harus saya laksanakan. Mengikuti program seleksi dengan sungguh-sungguh menjadi sebuah keharusan sebagai apresiasi diri dan juga apresiasi beliau tentunya. Yang pasti dengan ini saya menjadi lebih bersemangat dalam segala proses pencapaian prestasi yang saya inginkan. Semoga harapan saya dapat terwujud dan membawa berita perkembangan baik yang juga ditunggu beliau. Terimakasih Bapak Teuku Rezasyah M.A.





Selasa, 04 Oktober 2011

SENDI

Seringkali ku takut akan hadirmu,Sendi
Kenyataan paling pahit terbesit tatkala berfikir tentangmu,Sendi
Hampa kau buat hatiku, Sendi
Kecil diriku merasamu, Sendi
Tapi tak mengapa aku Sendi
Kini ku tak takut akan kau duhai Sendi
Toh telah dua ratus delapan puluh waktu pun aku lalui Sendi
Bebas menghirup oksigen segar, Sendi
Ku nikmati kado Illahi, Sendi
Kuicip saripati hidup
Bahkan sampai ke liang lahat pun aku Sendi
Tak perlu aku takut
Sendiri
Saya masih hidup

Rabu, 07 September 2011

INSIDIOUS, SEKELEBAT PEMIKIRAN

Malam ini saya memutuskan untuk menonton Insidious, film Holywood bergenre horror yang happening sekali di pertengahan tahun kemarin. Saya mengajak si Gani, kebetulan dia gak ada kelas besok pagi, jadi nontonlah kita berdua. Sebenernya ada adek saya juga sih, tapi karena suatu alasan dia  tidak nonton dan memilih untuk tidur. Disini saya atidak aan berbicaa mengenai resensi atau review dari fim ini. Tapi saya hanya ingin mengutarakan beberapa poin pendapat yang saya renungkan ketika sedang dan sudah menonton film ini.
Pertama, saya berfikir bahwa dengan terciptanya film ini mungkin dunia “barat” yang identik dengan sesuatu yang berbau saintifik dan agak anti dengan sesuatu yang berbau supernatural sudah mau ya menyerap nilai-nilai mistis yang katanya berasal dari “timur”. Yang notabene memang terkadang tidak dapat dijelaskan secara saintifik ataupun dengan akal sehat seperti hantu gentayangan, kesurupan, arwah dibawa keliling sama jin, diumpetin genderuwo, atau mungkin disunat setan,hihihi. Di film ini keliatan bangetkan, ceritanya itu si Dalton “diculik” sama si Demons with Fire Face dan cerita penyelamatan yg dilakukan sama bapaknya, Josh. Biar lebih kece, mereka menyebutnya Projector Traveler. Kalo disini, di lingkungan sekitar kita sudah tidak asing lagi mendengar yang seperti itu. Kalo saya dari sejak kecil sudah sering mendengar yang kayak gitu, bahkan pernah menyaksikannya. Bolehlah kita sebagai “orang timur” berbangga karena kita sih udah tahu lebih duhul dan sering angkat tema beginian ke layar lebar, kita lebih maju selangkah di genre horror. Karena setahu saya Holywood lebih mengacu pada pembunuhan, penyiksaan, dll.
Kedua, adegan ritual telekomunikasi Alice pun sering juga kita lihat, ya model2 praktik “perdukunan”. Atau bagi teman2 yang sering nonton acara Dua Dunia pasti ngerasain hal yang sama. Ada mediator untuk berhubungan dengan dunia lain, gambar-gambar penampakan hantunya. Hanya, disini lebih ada sentuhan saintifiknya. Kita bisa lihat di adegan ritual yang pake alat segambreng. Padahal kalo dkita paling pake segelas air putih aja gitu ya. Mereka tetap ingin eksis sama pendirian yang berdasarkan saintifik. Karena pernah ada juga acara seperti Ghost hunter gitu, mirip2 pemburu hantu tapi pakai alat2 canggih pendeteksi gelombang elektromagnetik gitu.
Ketiga,  saya sangat suka film ini dan saya yakin kalau teman-teman ang pernah nonton film ini akan setuju. Jalan ceritanya bagus, tapi saya pikir jalan ceritanya sama saja seperti jalan cerita film horror di Indonesia. Apalagi sama film yang betemakan Pocong yang saya acungi jempol juga, salah satu pemerannya itu Kinar Yosih, aduh saya lupa judulnya. Tapi sayang walaupun di Indonesia banyak film horror tapi jarang yang “bagus” dan focus sama tujuan utama bikin film horror, pada tahu lah ya! Seharusnya banyak film horror yang bagus dan focus. karena menurut saya film horror yang paling horror itu Cuma film horror Indonesia sama Thailand. Ya bandingin aja setannya di di film Insidious ini sama di film Jaelangkung misalnya, beuh, jauh. Namanya aja jauh keren, kalo kita ada Jaelangkung, Genderuwo, Pocong, mukanya serem lagi. Kalo di film Insidious nama setanya Red Lipstick Face Ghost, panjang bener ya dan gak serem. Saya berdoa semoga makin banyak para produser yang mau biayain film horror bercerita horror sehingga menghasilkan film yang benar-benar horror bukan bertemakan kolor,apasih.
Keempat, ketika adegan Josh menolak Alice untuk melanjutkan ritual dan menyuruhnya pulang, saya gregetan, biasa kebawa emosi kayak emak-mak kalo nonton sinetron yang pemeran utamanya dianaya secara terus-menerus dan terus menerimanya. Alesannya, karena Josh gak mau percaya sama hal beginian, gemes deehhhhh!!! Tapi langsung aja disitu, saya inget sama salah satu Rukun Iman yang ketiga (kalo gak salah), Iman kepada Makhluk Ghaib ciptaan Allah, Tuhan Semesta Alam. Dari situ saya merasa beruntung diberi pengetahuan sejak kecil mengenai hal tersebut, dan sekarang insyaallah semakin teguh sama yang saya percayai karena lambat launn saya tetap belajar untuk tetap teguh pada yang saya percayai. AMIIN! Dari situ juga saya belajar salah satu tanda bahwa manusia itu ciptaan Allah yang paling mulia dibanding yang lainnya. Yang satu ini dapat kita lihat di adegan ketika Josh ada di depan pintu merah, dihadang dan diserang sama setan cowok kayak Joker. Alice bilang “get stronger then you’ll be strong” abis itu Josh mersa kuat dan hyyaaaatttttt, didorongnya tuh si Joker sampe mental entah kemana. Yang penting kamu percaya baha kita (manusia) lebih mulia daripada makhluk lain, mereka juga nanti takut sendiri. Jadi sebenrnya gak usah-usah takut sama yang begituan kalau kita percaya bahwa kita lebih mulia daripada mereka.No offense J
Dari film ini saya banyak belajar. Belajar bahasa inggris, melihat sisi orang lain dalam mengadapi mistis, menyadari bahwa kita lebih canggih di bidang horror dari mereka yang katanya lebih unggul, dan yang pasti ada renungan untuk kebaikan saya sendiri. Ah menyenangkan memang kalo nonton film itu! Jayalah terus perfilman Indonesia!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Ini cerita Aku dan Twitter-ku


                Beberapa orang teman bertanya mengenai pergantian nama akun Twitter yang telah saya lakukan atau mungkin akan saya lakukan terus. Berbagai nama akun twitter pernah saya pakai seperti, @kikibukutulis @comelnyakiki @mignonkiki dan yang sekarang saya pakai adalah @jealouqity. Pertanyaannya hampir sama seputar mengapa saya memilih akun tersebut. Namun pertanyaan semakin banyak ketika saya terakhir kali mengganti nama akun yang sedang saya gunakan ini, @jeaalouqity.Dan setiap kali ditanya saya selalu menjawab dengan pernyataan yang sama pula “Nanti ya!Nanti saya posting alasan kenapa saya memilih menggunakan nama akun tersebut.” Inilah saatnya bagi saya untuk membayar semua hutang jawaban bagi teman-teman yang bertanya. Bagi yang tidak bertanya ya silahkan saja dibaca sebagai informasi ajang mengenal lebih dekat siapa saya,halah.
                @Kikibukutulis, ini dia nama akun twitter pertamaku. Lupa entah kapan saya pertama punya twitter,mungkin sekitar tahun 2009? Entahlah, yang pasti orang  pertama yang memperkenalkan twiter kepadaku adalah si Kang Iqbal, @suwitamihardja. Nama akun ku sendiri terinspirasi dari sebuah catatan kecil  salah satu artis idola saya, Fitri Tropica, @Fitrop di balik kartu panitia Symphonesia 2008 ketika ia membubuhkna tanda tangan di bawahnya. Waktu itu kebetulan saya ditugaskan untuk menjadi LO Band Mocca yang kebetulan satu ruangan sama @fitrop, jadi sekalian deh minta tanda tangan! *ting!*unjuk jidat! Tulisan itu bertuliskan “To: Kiky buku tulis :D”. Kemiripan sebuah merek buku yang sudah lama eksis di kancah alat tulis menulis Indonesia dengan nama panggilanku, Kiki, merangsang fikiran saya untuk menggunakan nama akun tersebut. Namun agar tidak terlalu sama dengan salah satu nama alat tulis menulis itu saya ganti “y” pada “Kiky” dengan “i” agar sama dengan nama panggilan saya. Hmmmmm, boleh dibilang nama akun pertama ini dikasih atau terinspirasi dari @fitrop, terima kasih kaka! *ting *unjuk jidat *kena senter :D
                @Comelnyakiki, dibalik nama kedua akun saya terdapat sebuah cerita juga loh! Bisa tebak apa ceritanya? Banyak orang mengira nama ini menunjukkan perilaku saya yang bawel, comel, banyak omeong, bawel,blablablabla. Walau saya akui tidak bisa memungkiri keadaan pahit yang menyadarkan saya pada kemungkinan saya tidak dapat terjauhkan dari hal-hal tersebut! #pengakuan *hiidup itu keras *nangis di pojokan #trytomoveon. Eiittssss! Tapi bukan itu alasannya saya memakai nama terrsebut. Comel sendiri terinspirasi dari salah satu celotehan dalam film anak Ipin dan Upin yang tayang setiap,hmm….hmmm…gatau jam berapa tapi itu siarannya di TPI, eh sekarang MNCTV ya! Kata itu tercetus pada episode Ipin dan Upin mengadopsi Apin, anak kucing yang terpisah dari induknya. Begini kutipannya “Wah, anak kucing sape tuh? Comelnyaaaaaaa!!!!” “Heu-euh Ipin, comel-comel-comel.” And do you know what “comel” refers to? Kata comel berarti lucu dalam bahasa melayu *ini karena liat teks terjemahan yang adad di film itu. Karena namanya lucu, dan hal itu pula yang mengidentifikasi aku *silahkan pemirsa muntah *disediain ember di pojokan Jadi aku ambil saja nama itu dengan menggabungkan nama panggilanku di belakangya!Muahahhahahhaa, jadilah @comelnyakiki wooooo comelnya!!!!comel-comel-comel!
                @Mignonkiki, nah nama akun yang satu ini juga special looohh!!!Saya mulai menggunakan akun ini, ketika saya lagi Student Exchange ke Korea. Waktu itu, teman saya dari Perancis, melihat salah satu foto pada akun Facebook saya, dan dia berkata “Aaaaa, mignon!” Saya heran, apa maksudnya?Bertanyalah saya, ternyata artinya itu “cute” walau dalam artian sebenarnya mengungkapkan keadaan di atas cute, berarti cute banget gitu ya!!ahahahahh!! Tapi setelah berkata demikian, si teman saya itu bernyanyi “T’es si mignon-mignon-mignon-mignon-mignon mais gros gros gros” seraya berkata “You were like the character in this video clip!” http://www.youtube.com/watch?v=5S0hvFuXmHI Dan,geeezzzzz!!!video clip dan lagu itu itu emang lucu dan unyu abisssss!!!!!!ahahahahahhaha, dari situ muncull ide, yasudahlah saya mau ganti nama akun itu, biar tambah unyuuuuuuu gitttuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!muahahahahahhaha :DD Dan dipakailah akun @mignonkiki itu! Setiap kita bertemu dan berkumpul dengan teman2 Perancis lainnya, tak segan2 kita menyanyikan lagu tadi dan lagu ini jadi lagu andalan kalo kita lagi kange-kangenan…ooohhhhhhh, sooo swweeettttt!!!! J
                Majimak!!!!!! The last but not least (akun yang gue pakai sampai saat ini) adalah @jealouqity Nah sebenernya nama akun ini nih yang bikin beberapa temen penasaran…hehehhehhee. Ada yang bilang kalo nama akun itu plesetan dari Hello Kitty! Emang iya sih selewatan mirip, tapi bukan hanya sekedar itu. Sebenernya, ada arti filosofis mendalam dibalik nama akun twitter yang satu ini..wohohooh, gaya amat yak! Jadi begini ceritanya, sepulangnya saya dari Korea banyak hal yang bikin saya gak enak hati untuk melakukan ini-itu, kayak ada yang ganjel kali gitu. Ya mungkin kalo kata orang  itu namanya culture shock! Jujur, emang gila-gilaan culture shock nya…hohohhooho!!! Sepulang dari Korea sana, saya kehilangan passion saya setiap kali mau ngerjain suatu hal, even itu tugas, jelek nih jangan diikutin ya! Nah ketika saya dilanda sindrom gabut yang membabi buta sampai-sampai menyebabkan collateral damage ke badan yang makin gendut dan otak yang kian hari terasa kian mengkerut, banyak diantara teman-teman saya yang mengerjakan, menghasilkan sebuah karya mengagumkan. Ngerjain proyek ini lah, dapet gawean inilah, pergi kesini lah, dapet award ini lah. Geeezzz!!!!! Dan ya, siapa yang gak iri???gilllaaaaaaaaaa!!!!!!! It pressed me a lot!!! Hati ini membuncah terbakar api cemburu akan segala sesuatu yang dikerjakan orang-orang sekeliling saya. YES, I WERE SO JEALOUS FOR ALL OF IT!!! Gila yah, sampe sgitu irinya loh saya, ya itu tadi secara gue lagi gabut-gabutnya, nah perasaan iri hati itulah yang menyelimuti hati saya nan sepi itu…ahahahahhaha!!! Tapi setelah difikir-fikir lagi, Astaghfirullahhaladziim!!!! Apa yang saya fikirkan?Iri Hati????? Itu kan gak baik bagi kesehatan, kesehatan hati khususnya, gimana enggak kalo iri hati itu bikin emosi dan bawaannya aneh-aneh. Apa yang telah saya perbuat? Ampuni Baim Ya Allah..:P Daripada hati saya ngedumel, menggerutu gak jelas karena iri hati. Akhirnya saya jadikan semua hal baik yang menimpa orang-orang di sekeliling saya sebagai motivasi dan inspirasi untuk menjadikan saya menjadi pribadi yang lebih baik. Dari sanalah akhirnya saya puny aide buat bikin nama akun @jealouqity yang artinya Jealousy for High Quality! Dari sini juga saya belajar banyak mengenai bagaimana saya harus merespon keadaan sekitar sehingga dapat membawa kebaikan  bagi perkembangan diri sendiri menuju arah yang lebih baik dan lebih mensyukuri dengan segala keadaan yang ada, apalagi dikelilingi oleh orang-orang yang memotivasi dan menginspirasi. Semoga menginspirasi!!!! J

Minggu, 24 April 2011

Fall-Summer-Fall (3)

Never fall for Fall….
                Setelah pengumuman mengenaskan itu, aku masih tak terima. Gak-gak-gak-gak bisa terima!!!! (tereak pake toa, dalam hati saja). Dengan segala daya,upaya, pesona, inner beauty dan ke-innocence-an  yang telah aku kerahkan, masih gak percaya aku gagal lagi (lebay). Tapi ya sudah nasib, terima saja. Tetap masih gak terima, saya tanya ke pihak panitia penyeleksi, apa kurang saya??? Well, akhirnya pihak panitia mengadakan pertemuan khusus untuk memberi “wejangan khusus” pada orang-oarang “khusus” yang bernasib sama seperti saya, gagal di Summer. Tapi tetap, apa yang dibicarakan tentang kekurangan saya, saya tidak bisa diterima. Tetap, alasan-alasan yang dilontarkan menurutku kurang masuk akal sehingga mengakibatkan collateral damage sampai-sampai saya tidak lolos. Gak terima, tapi yam au bagaimana lagi, tetep harus menelan pil pahit bagian dari kehidupan.(sok bijak lo!)
                Dengan segala wejangan khusus, akhirnya kami berlima diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi Fall 2010. Kami diharuskan mempersiapkan diri sesiap mungkin unuk bersaing menjadi lima delegasi terpilih Fall 2010. Dan pada akhirnya, pada seleksi tahap akhir terpilihlah tujuh orang untuk bersaing memperebutkan posisi emas tersebut, lima orang  yang gagal summer ditambah dua. Dan bertemulah kami bertujuh di lobby Kantor Kerjasama Luar Negeri, dan tebak keangkuhan apa yang saya miliki? Saya tidak mengenal siapapun, siapapun, sama sekali kecuali Teh Gheni yang mana dia kakak kelas sejurusan dan memang sebenarnya tidak ada niatan untuk mengenal siapa pesaing-pesaing saya (jangan ditiru ya teman-teman). Semua orang bersiap dengan kostum daerah dan performance masing-masing, sama juga saya. Maklum pada tes tahap akhir ini kita diwajibkan untuk mempertunjukkan kebolehan dalam bidang seni, khususnya kesenian tradisional.
                Disaat waktu menunggu, ada beberapa orang yang sudah saling mengenal, bercengkrama, saling bertany kebolehan apa yang aka ditampilkan, hmm ada yang sangat akrab malah. But, not for me! jika ada yang bertanya, aku jawab sekadarnya. Sepertinya tak ada ramah-ramah nya sama sekali aku ini, ah, yasudahlah. Tapi menurutku itu wajar, penting malah, hello we are competing here!! (ini juga jangan ditiru ya). Tiba saatnya untuk seleksi tahap akhir. Semua peserta menuju ruangan Kepala Kerjasma. Jeng-jeng-jeng-jeng.
                Masih ingat urutan duduk ketika kita diseleksi, kami disilahkan untuk memperkenalkan diri satu-persatu secara singkat. Di urutan paling kanan dan pertama ada Aprilya Sirait, Sastra Inggris 2006, skripsi udah beres, tinggal sidang, guru privat bahasa inggris, pengajar sekolah minggu, eda-eda batak yang mbrojol dan besar di tanah nan kaya raya, Papua. Ya bolehlah, tapi dia belum membuat saya khawatir. Kedua, teh Gheni, Hubungan Internasional 2006, pinter bahasa Jepang, aktif di kelab-kelab berbau Jepang. Menarik, bisa bahasa jepang bok! Ketiga, Ester Evasolina Saragi Rumahorbo, Hukum 2007, kelahiran 91, aktivis AIESEC, ngajar anak2 kurang mampu, aktif di gereja, dan masih banyak kegiatannya. Hmmmmmm, biasa aja, gahahhaahhaha (ih sombongnyaaaaaa). Keempat, Vania Sekar Simatupang, Psikologi 2006, penyayang binatang, aktivis pecinta binatang, bisa maen biola, bisa nari saman, aktif di kegiatan lainnya. Apa, kok bisa sih???? (tuhan, tolong tegur atas kepalaku yang semakin membesar ini). Dan akhirnya, tuhan pun menegur ku melalui orang kelima ini, Tami Mauliana Kertanagara, Jurnalistik 2006, IPK tertinggi seangkatan, pernah magang di Media Indonesia, SCTV, wawancara Agum Gumelar, Sri Mulyani, penyuka off road, punya band yang suka manggung dimana-mana, pernah bikin liputan investigasi penyelundupan satwa liar. GILA ni orang!!!!!!! Mulai jipper, tapi tesadar bahwa dialah yang akhirnya aku nobatkan sebagai pesaing tangguh saya. Ditambah celotehan Pak Ramdhan yang ternyata mengenal nenek moyang orang ini, ah semakin gila! Dan tiba giliran saya, Rizki Maulana Rachman, HI 2008, bla-bla-bla….., saya jelaskan apa kegiatan, penghargaan, hobi, dan motivasi saya. Dengan kepercayaan diri diatas ambang kenormalan manusia saya bercerita dengan lancar. Terakhir, Muhammad Gelar, Agronomi 2006, urutan ketiga seleksi beasiswa student exchange ke Jepang, aktif kegiatan research sama dosennya, dan segudang aktifitas lain. Tapi maaf, hanya orang sebelum saya yang membuat hati maakin gelisah.
                Setelah perkenalan diri, tiba saat untuk mempertunjukkan kebolehan di bidang seni. Seperti biasa, dimulai dari urutan pertama, kita pangilkan Eda April!!!!!!!!!ah lupa apa yang dia tampilkan, yang pasti dia pakai kebaya, dan ulos, menari tor-tor mungkin???lupa, heehhehehehhe. Teh Gheni, menari piring. Ester, nortor juga ya kalo tidak salah. Vania, membawa beberapa pasukan untuk menari saman. Tami, nyanyi bubuy bulan sambil ngegitar, nari jaipong. FYI, derajat dia sebagai pesaing tangguh saya, turun, ahahhaahaha, saya tahu dia baru belajar jaipong, kalau nyanyi bubuy bulan mah semua orang juga bisa (kepala saya membesar lagi, jangan ditiru). Nah tiba giliran saya, dengan bangga saya memainkan suling sunda, ngawih, lengseran, hingga menari salah satu tarian tradisional. Catetan ya, bukan berarti saya jago sakali dalam bidang seni tradisional yang disebutkan loh, masih banyak yang perlu saya pelajari, tapi disbanding dengan yang lain, ya bolehlah, tetep megang ya (tuhan segera kempeskan hidung saya yang kembang kempis karena tak bisa menahan kepala saya yang kian membesar). Kalau, Gelar, dia nyanyi sunda, lucu, dan menari, tapi keliatan bagnet kalo baru belajar nari.Gahahahhahahahahaha…J Pada tahap unjuk kebolehan, saya fikir, saya yang pegang, duh. Pada suatu ketika ada seperti wawancara via telpon dimana panitia  menanyakan siapakah lima orang yang pantas menjadi delegasi secara berurutan. Dor, permintaan yang sangat sulit, dengan penuh kejujuran hati dan kepercayaan diri diatas manusia normal saya berucap. Dengan berurutan saya berkata Saya, Tami, April, Gheni. Setelah mengucapkan terimaksih,telpon terputus. Dan akhirnya saya menunggu lagi.
                Entah berapa lama proses pengumumannya, yang pasti lumayan bikin deg-deg-an! Hingga waktunya tiba, masih ingat, sepulang dari mengikuti sebuah lomba di Malangg, di dalam kereta, terdengar handphone berdering. Terdengar suara laki-laki yang belakangan diketahui sebagai suara Yudha, salah satu tim penyeleksi, dia bilang dari Kantor KLN Unpad, menanyakan saya, dan …….. entah apalagi yang ia bicarakan. Suara putus-putus, tak jelas, bertabrakan dengan suara gerbong yang ditarik sekuat tenaga oleh lokomotifnya. Hati makin deg-deg-sir karena saya sebenarnya tahu apa yang ingin dia sampaikan, berita hasil seleksi, tapi enath bagaimana hasilnya. Suara jantung tak kalah hebatnya dengan suara deruan roda-roda kereta api yang berdecit dengan relnya (lebay ah). Kutarik nasfas panjang dan kuputuskan untuk menelpon teh Uli sesampainya di Stasiun Hall, Bandung.
                Sesampainya si Bandung, ternyata aku tak bisa langsung telpon Teh Uli, karena harus mencari mobil charteran dengan harga pas untuk mengantar kita ke Jatinangor. Mobil dapat, langsunglah kita bergegas, capek cuuuuu!!! Di perjalanan, sekitar daerah Kiara Condong saya telepon Teh Uli.
                “Halo, Teh tadi ada yang telpon, ngomongnya dari KLN, tapi sih kayaknya suara Yudha, kenapa teh? Ada berita tentang seleksi kah?”
                “Iya ada berita, jadi daritadi sore kamu gak tahu apa beritanya???”
                ‘’ Enggak !’’
                ‘’Jadi gini, pengumumannya udah ada, ada berita buruk buat kamu !’’
                ‘’Oooooh, siapa aja yang lolos teh ?’’
                ‘’ Yang lolos itu urutan kedua si A, terus B,C,D. Kamu gak lolos !’’
Jedddddddddddaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrr (bak dihantam petir mahadahsyat) Gila masa gue gak lolos lagi ??? (ngomong dalam hati) Dunia teras gonjang-ganjing mau runtuh (Kamera di zoom ke muka sampe jerawat keliatan)
                ‘’Terus yan urutan pertama siapa teh ?’’
                ‘’Kamu !’’
                ‘’ KYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!Yang bener ????’’
                ‘’Jadi kamu bener2 belum tau ya ?Selamat yaaaaaaaaaaaaaaa!!!’
’’ Makasih ya teh ! ‘’
Dengan rasa suka cita, saya bergembira, diberikan capan selamat olah ketiga rekan saya yang berada di dalam mobil charteran ini. Dan akhirnya terjawab sudah segala usaha yang telah saya lakukan. I AM GOING TO KOREA FOR FALL 2010.
Banyak cerita lain yang masih malas saya ketikkan. Yang pasti berawal dari sinilah saya bertemu dengan lima orang wanita yang memiliki pengaruh besar dalam hidup saya, abang-abang-teteh-teteh penginspirasi hidup, teman-teman dari berbagai pelosok bumi, belajar bagaimana mencintai negeri sendiri, merasakan cinta,petualangan-petualangan liar, dan belajar bagaimana hidup, mamaknai hidup, dan bertahan dalam kehidupan.
Terimakasih kepada Allah SWT, kedua orang tua, dan saya ucapkan terima kasih kepada rasa kepercayaan diri yang berada pada ambang batas kewajaran manusia normal.
Semoga rasa malas dapat saya hilangkan untuk terus berbagi cerita sehingga kepala saya tidak terus botak karena over loaded dengan berbagai cerita di dalamnya.



Ranjang Strimin Biru, Kamarku, Kuningan, 25 April 2011